DIA AYAHKU

Saat ini aku sangat bersyukur masih memiliki sosok ayah yang berada di sisiku. Sosok yang belum tentu orang lain dapat rasakan juga di dalam kehidupannya.
Aku memeng tidak begitu akrab dengannya, berbicara hanya sekedar hal yang sekiranya perlu untuk dibahas. Sebagai anak perempuan, mungkin aku merasa sosok ayah tak terlalu berarti. Dia jarang di rumah, dia tak akan tau apa yang terjadi padaku hari ini, dia pun bukan orang yang tepat untuk sekedar kuajak berbagi cerita tentang hidupku sehari-hari.
Semakin bertambahnya usia, intensitas pertemuanku dengannya juga semakin berkurang. Dia hanya sibuk dengan dunia kerja dan rekan-rekannya. Pergi pagi, pulang malam, lalu terkadang bertugas ke luar hingga beberapa hari.
Setelah aku pergi merantau, hidup menjadi wanita yang bertumbuh dewasa, barulah aku sadar akan perannya di dalam kehidupanku selama ini.
AYAH.

Dia sosok yang sangat misterius. Keberadaannya sebagai tulang punggung keluarga barulah terasa. Peluh yang dia curahkan juga baru kurasakan saat ini. Bukan karna dia baru bertindak, tapi karna aku yang baru saja sadar akan hal tersebut.

Dia sosok yang sangat kukagumi. Hidup tanpa keluh dan kesah kepada anaknya. Tampil begitu ceria dihadapaku, tanpa kutahu entah topeng apa yang digunakannya hanya untuk membuatku tersenyum. Pemikirannya yang begitu luas, hatinya yang begitu tulus serta kesetiannya membuatku tak henti berdecak kagum.

Namun entah kenapa ada saja orang yang PENCEMBURU. Seorang yang tak bisa melihat orang lain hidup damai dan bahagia. Aku memang tak tau persis permasalahannya. Namun yang aku tau, ayahku adalah orang yang jujur
Dia memang sangat pandai menggambar, bahkan Dia mampu mendesign sendiri rumah impiannya bersama ibu tercintaku.
Dia juga setia. Bertahan pada pekerjaannya di sebuah Serikat Buruh. Aku tau itu semua bukan karna materi, tapi karna dia sangat perduli terhadap sesorang yang tidak mendapatkan perlakuan yang seharusnya mereka dapatkan selaku manusia seutuhnya. Membela hak-hak seorang pekerja yang terkadang hanya dipandang sebelah mata. Mencari bantuan dana hingga keluar negri dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup buruh di Indonesia.
Tapi...
Mengapa kah pekerjaan sosial seperti ini harus diributkan dengan permasalahan hukum?
Apakah jika seseorang paham hukum, artinya ia dapat mempermainkan hukum?
Hukum adalah kebenaran. Jangan sampai anda menodai hukum itu sendiri hanya karna ketamakan anda sebagai manusia yang penuh dengan nafsu duniawi.
Ingatlah bahwa penghakiman yang sesungguhnya bukan di dalam dunia ini, tapi di kehidupan kekal setelah kita pergi dari dunia ini.

So, hentikan ketamakan yang ada dalam pikiran anda. Ingatlah bahwa "segala sesuatunya CUKUP"
JANGAN BAHAGIA DENGAN KELEBIHANMU. BAHAGIA YANG SESUNGGUHNYA ADALAH MEMBAGIKAN KELEBIHANMU PADA YANG MEMBUTUHKAN.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CAPACITY

KATA HATI

WHO ARE YOU?